Tahun ini, rasanya seperti bertemu dengan satu jenis musim yang aneh. Musim yang selalu merasa dirinya paling dingin, paling disakiti oleh angin, tetapi tidak pernah menyadari bahwa hembusan yang ia kirimkan justru bisa menusuk kulit orang lain.
Ada seseorang yang datang seperti awan kelabu yang senang menumpahkan hujan keluh kesah. Ia ingin langit selalu menyediakan ruang untuk menampung gerimis ceritanya. Ia ingin didengar, dipahami, dan ditemani setiap kali badai kecil datang menghampiri hidupnya. Namun anehnya, ketika orang lain mencoba membuka payung cerita mereka, ia hanya melihatnya sebagai rintik yang sepele.
“Ah, hanya hujan kecil,” katanya, seolah badai yang dirasakan orang lain tidak lebih dari gerimis yang bisa diabaikan. Kadang ia bahkan tersenyum tipis, seperti seseorang yang berdiri di jendela hangat sambil memandang orang lain yang kehujanan. “Cuma begitu saja? Tidak ada apa-apanya.” Tetapi ketika seseorang meminjam kalimat yang sama untuk menenangkannya, langitnya langsung berubah muram. Awan-awan tebal berkumpul. Ia merasa disakiti, merasa tidak dipahami, seolah dunia baru saja menutup pintu di depannya.
Jujur saja, ini pertama kalinya saya bertemu dengan musim seperti ini. Awalnya saya mencoba bertahan, seperti pohon yang tetap berdiri meski diterpa angin yang sama berulang-ulang. Namun lama-lama saya menyadari, tidak semua angin perlu dilawan. Beberapa cukup dihindari.
Ada percakapan yang ternyata tidak menenangkan, tetapi justru menguras tenaga seperti berjalan jauh tanpa air. Ada pertemanan yang pelan-pelan membuat hati terasa penuh, tetapi bukan oleh kehangatan melainkan oleh lelah yang tidak terlihat.
Akhirnya saya memilih untuk berhenti membuka jendela terlalu lebar, membatasi segalanya. Saya tidak lagi menaruh semua ceritaku di hadapannya. Kata-kataku kini menjadi lebih singkat, seperlunya saja, seperti lampu yang dinyalakan hanya saat benar-benar dibutuhkan. Bukan karena saya membenci.
Bukan pula karena saya ingin menjauh dengan marah. Saya hanya sedang belajar merawat kewarasan. Hidup sudah cukup penuh dengan badai yang tidak bisa kita kendalikan. Ada banyak hal yang harus dihadapi dan ada banyak langkah yang harus terus dilanjutkan.
Karena itu, menjaga jarak kadang bukanlah bentuk penolakan terhadap orang lain, melainkan bentuk perlindungan terhadap diri sendiri. Seperti laut yang tahu kapan harus menarik ombaknya kembali, seperti langit yang tahu kapan harus menyimpan hujannya. Dan mungkin, dalam diam yang lebih tenang itu, seseorang sedang belajar satu hal sederhana: bahwa tidak semua kedekatan harus dipertahankan, dan tidak semua jarak berarti kehilangan.
Mari belajar menaruh batas, agar hati tidak kehabisan ruang untuk bernapas😇
Komentar
Posting Komentar